Selasa, 11 Juni 2013

SINOPSIS NOVEL “DI BAWAH NAUNGAN KA’BAH”




Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dua insani antara putra ulama karismatik dengan putri pastur. Namanya Abdullah Abbas (Gus Abbas) dan Eka Kristin Elisabet. Sebelum bertemu, keduanya ditimpa suatu ujian yang sangat berat. Ujian yang mengantarkan akan arti dari sebuah makna kehidupan yang harus dijalani oleh seorang hamba yang ingin memperoleh derajat yang lebih tinggi.

Mulanya, Gus Abbas ingin dijodohkan dengan Neng Nihayatus Sa’adah (Neng Neha) putri Kiai Faruq yang merupakan salah satu ulama terkemuka yang merupakan teman abahnya (Kiai Zaen). Namun, perjodohan itu ditolak oleh Gus Abbas, sebab Neng Neha sudah dicintai terlebih dahulu oleh Kang Hasan (teman Gus Abbas). Ia tidak mau menyakiti hati saudaranya tersebut. Kepetusan ini ia ambil dengan beberapa pertimbangan yang diklimakan dengan meminta petunjuk dari Allah. Ia siap dengan segala resiko yang nantinya akan timbul.

Sebenarnya keputusan ini berat dan pahit. Namun, harus dilakukan demi menjaga perasaan Kang Hasan. Gus Abbas memasrahkan semua yang ia lakukan kepada Allah. Allah lebih mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya dengan penolakan perjodohan tersebut. Ibunya Gus Abbas (Ummi Istiqomah) kecewa dengan keputusannya yang menolak perjodohannya dengan Neng Neha. Ummi Istiqomah ingin Neng Neha menjadi menantunya. Baginya, Neng Neha adalah gadis yang baik dan layak untuk mendampinginya. Namun, ada juga yang mengerti akan sikap bijak yang dilakukan oleh Gus Abbas, seperti Kiai Zaen. Abahnya ini mengerti betul sikap putranya sejak kecil yang tidak pernah menyakiti kedua orang tuanya. Ia berfirasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi putranya. Dalam masalah ini, Kiai Zaen mempunyai suatu keyakinan yang kuat bahwa semua keputusan Gus Abbas ini sudah dilakukan dengan fikiran yang matang dan penuh pertimbangan.

Akibat dari penolakan perjodohan ini, Ummi Istiqomah marah terhadap Gus Abbas. Sementara Neng Neha kabur dari rumah untuk beberapa hari karena merasa tersakiti. Ia menginap di rumahnya Ukhti Hasanah yang merupakan teman sekuliahnya di IAIN. Namun, setelah ia mendapatkan nasehat dari Ukhti Hasanah, hatinya menjadi lunak, dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya lagi. Ia akan melupakan Gus Abbas orang yang pernah dicintainya dan akan membuka lembaran baru dengan Kang Hasan yang dipilih oleh Kiai Faruq sebagai pengganti Gus Abbas. Kang Hasan ini adalah muridnya Kiai Faruq sendiri, karena ia pernah mondok di pesantrennya Kiai Faruq. Adapun mengenai kemarahan Ummi Istiqomah, akhirnya ia menyadari akan tindakannya yang telah memaksa Gus Abbas untuk cepat-cepat menikah. Akhirnya ia  menyerahkan masalah gadis yang akan mendampingi Gus Abbas kepada Gus Abbas sendiri. Karena masih banyak tugas Gus Abbas agar ia bisa seperti yang diinginkan oleh abahnya.

Dengan perasaan yang berat, Gus Abbas harus menghadiri pernikahan Kang Hasan dan Neng Neha. Sebenarnya ia tidak punya keinginan untuk hadir, tapi ia tidak tega melihat temannya yang sedang dalam kebahagiaan harus ditinggalkan dalam acara pentingnya. Gus Abbas hadir dengan membawa raut muka yang menampakan rasa senang dan bahagia. Namun, sebenarnya hatinya bersedih.

Segala perbuatan manusia itu sudah diatur oleh Allah. Semuanya ada hikmah yang terkandung di dalamnya, baik yang sudah diketahui manusia atau yang belum. Konsep inilah yang dipegang oleh Gus Abbas. Ia tidak mau larut dalam kesedihan yang hanya akan menjadikan dirinya rugi. Ia berusaha untuk mengisi waktunya dengan hal kebaikan sebagaimana Kiai Zaen. Sesuatu yang hilang apabila diserahkan kepada Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan perkara yang lebih baik. Ia ingin mencari pengalaman terlebih dahulu sebagaimana yang telah diperintahkan oleh abahnya, sebab nantinya ia akan menggantikan posisi abahnya untuk menjadi seorang kiai. Meskipun kalau dilihat, keilmuan Gus Abbas bila dibandingkan dengan abahnya masih sangatlah jauh sekali. Selain abahnya itu lama mondoknya bila dibandingkan dengan Gus Abbas, ia juga seorang ulama cerdas yang sudah sudah diakui keilmuannya oleh sederetan ulama nusantara. Bahkan kealiman abahnya Gus Abbas ini sudah diakui oleh ulama Haramain (Makkah dan Madinah) ketika ia masih mondok di sana.

Dengan sikap pasrahnya kepada Allah, akhirnya Gus Abbas dapat menemukan jawabannya ketika ia menikah dengan Kristin. Kristin adalah seorang penganut Nasrani yang menjadi muslimah sebab jasanya Gus Abbas.

Mulanya Kristin adalah gadis yang selalu terzalimi. Suatu ketika, ia ingin dizalimi oleh Andre yang ingin merenggut kehormatannya. Namun, nafsu bejatnya Andre tersebut tidak sampai terjadi sebab ada Gus Abbas yang telah menolongnya terlebih dahulu. Waktu itu, Gus Abbas sedang bepergian untuk menjalankan tugas dari abahnya untuk menghadiri diskusi agama sebab abahnya ini ada urusan yang lebih penting, yaitu rapat ICIS (International Conference of Islamic Scholars). Ia ditemani oleh ketiga santrinya yang salah satunya menjadi sopirnya.

Dalam menyelamatkan kehormatan Kristin, Gus Abbas harus menderita luka sebab tusukan pisau Andre. Hampir saja kehormatan gadis itu terenggut sebab pakaiannya sudah koyak. Namun Allah mentakdirkan gadis ini selamat lantaran jasa Gus Abbas. Aurat Kristin yang terlihat ditutup dengan kerudung milik Ummi Istiqomah yang tertinggal di mobilnya. Sebab, mobil yang digunakan oleh Gus Abbas ini adalah mobil yang biasa digunakan umminya untuk mengisi suatu pengajian. Kerudung itu lumayan besar dan cukup untuk menutup aurat Kristin.

Gus Abbas kaget ternyata orang yang ia tolong adalah penganut Nasrani. Hal ini ia ketahui setelah melihat kartu identitas Kristin. Ia berusaha untuk menghindar dari gadis tersebut, meskipun sebenarnya hatinya ada rasa. Pertemuan ini kalau sampai terdengar orang banyak hanya akan menjadi fitnah besar. Rasa yang baru tumbuh itu ia kubur sedalam-dalamnya, sebab tercuma saja, pernikahan antara pemuda Islam dan gadis Kristen tidak dibenarkan oleh agama Islam.

Perasaan cinta juga dialami oleh Kristin. Bahkan rasa cintanya melebihi yang dialami Gus Abbas. Cinta Kristin belum pernah tumbuh kepada seorang lelaki kecuali dengan Gus Abbas yang telah menolongnya. Kristin memang gadis yang taat beragama yang waktunya selalu diisi dengan ibadah dan untuk belajar serta melakukan hal-hal yang baik yang telah diajarkan oleh ayah dan ibunya. Ia ingin sekali cintanya dapat diterima oleh Gus Abbas.

Gus Abbas menolak cinta Kristin dengan alasan perbedaan agama. Dan juga, ia menolak cinta Kristin ketika ia masuk Islam hanya karena mencintainya. Dengan sikap Gus Abbas yang tegas ini, akhirnya Kristin menyadari akan dirinya. Akhirnya, ia mempelajari Islam sedalam-dalamnya dengan penuh keikhlasan hingga mencapai jati dirinya. Setelah itu, ia tidak mau dikatakan bahwa ia masuk Islam karena cinta, meskipun awalnya seperti itu. Ia mengatakan kepada Gus Abbas bahwa Islamnya timbul karena ilmu dan hidayah Allah bukan karena cinta. Akhirnya, cinta Kristin diterima oleh Gus Abbas.

Perjalan Kristin dalam detik-detik menuju hidayah Allah sungguh sangatlah berat sekali. Ketika itu, ayahnya meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan. Kemudian disusul ibunya yang dibunuh oleh anak buah Andre, sebab ia merasa kecewa dengan sikap Kristin terhadapnya saat acara pemakaman ayahnya yang dinilai telah mempermalukannya di depan umum. Sebenarnya yang menjadi incaran utama adalah Kristin, namun di waktu itu Kristin sedang tidak ada di rumah sehingga yang terkena imbasnya adalah ibunya.

Setelah kematian ayah dan ibunya Kristin, ujiannya tidak berhenti sampai di situ. Ujian berat itu ia terima lagi saat ia belajar Islam di Pesantren Al-Kautsar yang diasuh oleh Kiai Abdurrahman yang masih ada kerabat dengan keluarganya Gus Abbas. Ujian yang menerpa Kristin adalah masalah bandul salib yang masih mengikat dengan kalungnya. Liontin itu ia dapatkan dari pemberian ibunya yang didapatkan ayahnya dari Vatikan. Masalah bandul salib ini tidak sengaja telah diketahui oleh Neng Wulan yang merupakan gadis yang merasa tersaingi posisinya semenjak kedatangan Kristin di Pesantren Al-Kautsar.

Dengan adanya bandul salib yang dilihat oleh Neng Wulan, hal membuka peluang kesempatan baginya untuk menjatuhkan Kristin di hadapan pengasuh pesantren agar ia dikeluarkan dari Pesantren Al-Kautsar. Sebab, tindakan Kristin ini dinilai dapat menjadikan dirinya murtad dari agama Islam jika hal itu disengaja ingin tasyabuh (menyerupai) dengan orang kafir dan berlandaskan karena mail (condong) dengan bandul salib tersebut.

Ummi Maghfirah, istri Kiai Abdurrahman menilai tindakan Kristin ini adalah menjadikan dirinya murtad. Dengan tergesa-gesa kata kafirah keluar dari mulutnya untuk Kristin. Kristin menangis dengan tuduhan yang tergesa-gesa tersebut tanpa diselidiki terlebih dahulu motif mengapa ia memakai bandul tersebut. Ia memakai bandul tersebut tidak mempunyai niatan apa-apa kecuali kalung tersebut mengandung sebuah kenangan yang bermakna dengan ibunya. Selain itu, ia juga tidak mengetahui kalau memakai kalung tersebut merupakan suatu larangan karena ia merupakan muallaf yang masih awan dengan ajaran Islam.

Dengan penuh kemarahan, Ummi Magfirah mengeluarkan Kristin dari Pesantren Al-Kautsar. Ia tidak ingin pesantrennya dikotori oleh Kristin. Waktu itu, itu Kiai Abdurrahman sedang tidak ada di rumah karena ia mengisi pengajian di Jakarta. Seandainya ia ada di rumah, niscaya masalah ini akan diselesaikannya dengan kepala dingin tanpa tergesa-gesa. Sebab masalah ini ada kaitannya dengan tauhid seseorang. Jadi, tidak boleh serampangan dalam memutuskannya.

Usai Kristin mendapatkan ujian dikeluarkan dari Pesantren Al-Kautsar, ia mendapatkan ujian lagi. Yaitu, ketika ia hendak pulang, ia telah diculik anak buah Andre yang telah memata-matainya sejak beberapa lama. Mereka menunggu kesempatan emas untuk menculiknya. Dengan menculik Kristin, Andre telah menjanjikan uang yang banyak jika berhasil.

Ketika Kristin diculik dari Pesantren Al-Kautsar, hal itu telah diketahui oleh Gus Abbas yang di waktu itu ingin bersilaturrahim di kediaman Kiai Abdurrahman. Sehingga, dengan cekatan ia berusaha untuk menolongnya. Awalnya, ia tidak mengetahui kalau santri putri yang diculik tersebut adalah Kristin. Sebab, setelah masuk Islam, nama Kristin diubah menjadi Fatimatuz Zahro.

Dengan penuh perjuangan Gus Abbas telah menyelamatkan Kristin. Meskipun tindakannya ini telah mendapat kecaman dari Ummi Magfirah yang merasa menyelamatkan gadis murtad itu tidak ada gunanya. Akan tetapi, Gus Abbas tidak langsung termakan oleh apa yang telah disampaikan oleh Ummi Magfirah.

Akhirnya, kesalah fahaman mengenai bandul salib yang dipakai Kristin dapat terselesaikan ketika Kiai Abdurrahman sudah kembali di kediamannya. Kristin dinyatakan tidak bersalah dan diperbolehkan untuk belajar di pesantren Al-Kautsar lagi.

Setelah menempuh perjalan yang penjang untuk melamar Kristin, Kiai Zaen mengemukakan suatu wasiat dari gurunya, Syaikh Diyauddin Makkah agar putranya dinikahkan setelah melaksanakan ibadah haji atau umrah. Pernyataan ini diperkuat oleh Syaikh Abdurrauf dengan perintah hendaknya pernikahan dilaksanakan usai mengelilingi Ka’bah.Yang akhirnya, atas usul Syaikh Abdurrauf, Gus Abbas dan Kristin menikah di kota suci Makkah seusai thawaf, mengelilingi Ka’bah.

Keywords : Love. Religion Scholl For Moslem. And pilgrim to Makkah.

2 komentar: