Novel
ini menceritakan tentang kisah cinta dua insani antara putra ulama karismatik
dengan putri pastur. Namanya Abdullah Abbas (Gus Abbas) dan Eka Kristin
Elisabet. Sebelum bertemu, keduanya ditimpa suatu ujian yang sangat berat.
Ujian yang mengantarkan akan arti dari sebuah makna kehidupan yang harus dijalani
oleh seorang hamba yang ingin memperoleh derajat yang lebih tinggi.
Mulanya,
Gus Abbas ingin dijodohkan dengan Neng Nihayatus Sa’adah (Neng Neha) putri Kiai
Faruq yang merupakan salah satu ulama terkemuka yang merupakan teman abahnya
(Kiai Zaen). Namun, perjodohan itu ditolak oleh Gus Abbas, sebab Neng Neha
sudah dicintai terlebih dahulu oleh Kang Hasan (teman Gus Abbas). Ia tidak mau
menyakiti hati saudaranya tersebut. Kepetusan ini ia ambil dengan beberapa
pertimbangan yang diklimakan dengan meminta petunjuk dari Allah. Ia siap dengan
segala resiko yang nantinya akan timbul.
Sebenarnya
keputusan ini berat dan pahit. Namun, harus dilakukan demi menjaga perasaan
Kang Hasan. Gus Abbas memasrahkan semua yang ia lakukan kepada Allah. Allah
lebih mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya dengan penolakan perjodohan
tersebut. Ibunya Gus Abbas (Ummi Istiqomah) kecewa dengan keputusannya yang
menolak perjodohannya dengan Neng Neha. Ummi Istiqomah ingin Neng Neha menjadi
menantunya. Baginya, Neng Neha adalah gadis yang baik dan layak untuk
mendampinginya. Namun, ada juga yang mengerti akan sikap bijak yang dilakukan
oleh Gus Abbas, seperti Kiai Zaen. Abahnya ini mengerti betul sikap putranya
sejak kecil yang tidak pernah menyakiti kedua orang tuanya. Ia berfirasat bahwa
ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi putranya. Dalam masalah ini, Kiai
Zaen mempunyai suatu keyakinan yang kuat bahwa semua keputusan Gus Abbas ini
sudah dilakukan dengan fikiran yang matang dan penuh pertimbangan.
Akibat
dari penolakan perjodohan ini, Ummi Istiqomah marah terhadap Gus Abbas.
Sementara Neng Neha kabur dari rumah untuk beberapa hari karena merasa
tersakiti. Ia menginap di rumahnya Ukhti Hasanah yang merupakan teman
sekuliahnya di IAIN. Namun, setelah ia mendapatkan nasehat dari Ukhti Hasanah,
hatinya menjadi lunak, dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya lagi. Ia akan
melupakan Gus Abbas orang yang pernah dicintainya dan akan membuka lembaran
baru dengan Kang Hasan yang dipilih oleh Kiai Faruq sebagai pengganti Gus Abbas.
Kang Hasan ini adalah muridnya Kiai Faruq sendiri, karena ia pernah mondok di
pesantrennya Kiai Faruq. Adapun mengenai kemarahan Ummi Istiqomah, akhirnya ia
menyadari akan tindakannya yang telah memaksa Gus Abbas untuk cepat-cepat
menikah. Akhirnya ia menyerahkan masalah
gadis yang akan mendampingi Gus Abbas kepada Gus Abbas sendiri. Karena masih
banyak tugas Gus Abbas agar ia bisa seperti yang diinginkan oleh abahnya.
Dengan
perasaan yang berat, Gus Abbas harus menghadiri pernikahan Kang Hasan dan Neng
Neha. Sebenarnya ia tidak punya keinginan untuk hadir, tapi ia tidak tega
melihat temannya yang sedang dalam kebahagiaan harus ditinggalkan dalam acara
pentingnya. Gus Abbas hadir dengan membawa raut muka yang menampakan rasa
senang dan bahagia. Namun, sebenarnya hatinya bersedih.
Segala
perbuatan manusia itu sudah diatur oleh Allah. Semuanya ada hikmah yang
terkandung di dalamnya, baik yang sudah diketahui manusia atau yang belum.
Konsep inilah yang dipegang oleh Gus Abbas. Ia tidak mau larut dalam kesedihan
yang hanya akan menjadikan dirinya rugi. Ia berusaha untuk mengisi waktunya
dengan hal kebaikan sebagaimana Kiai Zaen. Sesuatu yang hilang apabila
diserahkan kepada Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan perkara yang
lebih baik. Ia ingin mencari pengalaman terlebih dahulu sebagaimana yang telah
diperintahkan oleh abahnya, sebab nantinya ia akan menggantikan posisi abahnya
untuk menjadi seorang kiai. Meskipun kalau dilihat, keilmuan Gus Abbas bila
dibandingkan dengan abahnya masih sangatlah jauh sekali. Selain abahnya itu
lama mondoknya bila dibandingkan dengan Gus Abbas, ia juga seorang ulama cerdas
yang sudah sudah diakui keilmuannya oleh sederetan ulama nusantara. Bahkan
kealiman abahnya Gus Abbas ini sudah diakui oleh ulama Haramain (Makkah
dan Madinah) ketika ia masih mondok di sana.
Dengan
sikap pasrahnya kepada Allah, akhirnya Gus Abbas dapat menemukan jawabannya
ketika ia menikah dengan Kristin. Kristin adalah seorang penganut Nasrani yang
menjadi muslimah sebab jasanya Gus Abbas.
Mulanya
Kristin adalah gadis yang selalu terzalimi. Suatu ketika, ia ingin dizalimi
oleh Andre yang ingin merenggut kehormatannya. Namun, nafsu bejatnya Andre
tersebut tidak sampai terjadi sebab ada Gus Abbas yang telah menolongnya
terlebih dahulu. Waktu itu, Gus Abbas sedang bepergian untuk menjalankan tugas
dari abahnya untuk menghadiri diskusi agama sebab abahnya ini ada urusan yang
lebih penting, yaitu rapat ICIS (International Conference of Islamic
Scholars). Ia ditemani oleh ketiga santrinya yang salah satunya menjadi
sopirnya.
Dalam
menyelamatkan kehormatan Kristin, Gus Abbas harus menderita luka sebab tusukan
pisau Andre. Hampir saja kehormatan gadis itu terenggut sebab pakaiannya sudah
koyak. Namun Allah mentakdirkan gadis ini selamat lantaran jasa Gus Abbas.
Aurat Kristin yang terlihat ditutup dengan kerudung milik Ummi Istiqomah yang
tertinggal di mobilnya. Sebab, mobil yang digunakan oleh Gus Abbas ini adalah
mobil yang biasa digunakan umminya untuk mengisi suatu pengajian. Kerudung itu
lumayan besar dan cukup untuk menutup aurat Kristin.
Gus
Abbas kaget ternyata orang yang ia tolong adalah penganut Nasrani. Hal ini ia
ketahui setelah melihat kartu identitas Kristin. Ia berusaha untuk menghindar
dari gadis tersebut, meskipun sebenarnya hatinya ada rasa. Pertemuan ini kalau
sampai terdengar orang banyak hanya akan menjadi fitnah besar. Rasa yang baru
tumbuh itu ia kubur sedalam-dalamnya, sebab tercuma saja, pernikahan antara
pemuda Islam dan gadis Kristen tidak dibenarkan oleh agama Islam.
Perasaan
cinta juga dialami oleh Kristin. Bahkan rasa cintanya melebihi yang dialami Gus
Abbas. Cinta Kristin belum pernah tumbuh kepada seorang lelaki kecuali dengan
Gus Abbas yang telah menolongnya. Kristin memang gadis yang taat beragama yang
waktunya selalu diisi dengan ibadah dan untuk belajar serta melakukan hal-hal
yang baik yang telah diajarkan oleh ayah dan ibunya. Ia ingin sekali cintanya
dapat diterima oleh Gus Abbas.
Gus
Abbas menolak cinta Kristin dengan alasan perbedaan agama. Dan juga, ia menolak
cinta Kristin ketika ia masuk Islam hanya karena mencintainya. Dengan sikap Gus
Abbas yang tegas ini, akhirnya Kristin menyadari akan dirinya. Akhirnya, ia
mempelajari Islam sedalam-dalamnya dengan penuh keikhlasan hingga mencapai jati
dirinya. Setelah itu, ia tidak mau dikatakan bahwa ia masuk Islam karena cinta,
meskipun awalnya seperti itu. Ia mengatakan kepada Gus Abbas bahwa Islamnya
timbul karena ilmu dan hidayah Allah bukan karena cinta. Akhirnya, cinta
Kristin diterima oleh Gus Abbas.
Perjalan
Kristin dalam detik-detik menuju hidayah Allah sungguh sangatlah berat sekali.
Ketika itu, ayahnya meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan. Kemudian disusul
ibunya yang dibunuh oleh anak buah Andre, sebab ia merasa kecewa dengan sikap
Kristin terhadapnya saat acara pemakaman ayahnya yang dinilai telah
mempermalukannya di depan umum. Sebenarnya yang menjadi incaran utama adalah
Kristin, namun di waktu itu Kristin sedang tidak ada di rumah sehingga yang
terkena imbasnya adalah ibunya.
Setelah
kematian ayah dan ibunya Kristin, ujiannya tidak berhenti sampai di situ. Ujian
berat itu ia terima lagi saat ia belajar Islam di Pesantren Al-Kautsar yang
diasuh oleh Kiai Abdurrahman yang masih ada kerabat dengan keluarganya Gus
Abbas. Ujian yang menerpa Kristin adalah masalah bandul salib yang masih
mengikat dengan kalungnya. Liontin itu ia dapatkan dari pemberian ibunya yang
didapatkan ayahnya dari Vatikan. Masalah bandul salib ini tidak sengaja telah
diketahui oleh Neng Wulan yang merupakan gadis yang merasa tersaingi posisinya
semenjak kedatangan Kristin di Pesantren Al-Kautsar.
Dengan
adanya bandul salib yang dilihat oleh Neng Wulan, hal membuka peluang
kesempatan baginya untuk menjatuhkan Kristin di hadapan pengasuh pesantren agar
ia dikeluarkan dari Pesantren Al-Kautsar. Sebab, tindakan Kristin ini dinilai
dapat menjadikan dirinya murtad dari agama Islam jika hal itu disengaja ingin tasyabuh
(menyerupai) dengan orang kafir dan berlandaskan karena mail (condong)
dengan bandul salib tersebut.
Ummi
Maghfirah, istri Kiai Abdurrahman menilai tindakan Kristin ini adalah
menjadikan dirinya murtad. Dengan tergesa-gesa kata kafirah keluar dari
mulutnya untuk Kristin. Kristin menangis dengan tuduhan yang tergesa-gesa
tersebut tanpa diselidiki terlebih dahulu motif mengapa ia memakai bandul
tersebut. Ia memakai bandul tersebut tidak mempunyai niatan apa-apa kecuali
kalung tersebut mengandung sebuah kenangan yang bermakna dengan ibunya. Selain itu,
ia juga tidak mengetahui kalau memakai kalung tersebut merupakan suatu larangan
karena ia merupakan muallaf yang masih awan dengan ajaran Islam.
Dengan
penuh kemarahan, Ummi Magfirah mengeluarkan Kristin dari Pesantren Al-Kautsar.
Ia tidak ingin pesantrennya dikotori oleh Kristin. Waktu itu, itu Kiai
Abdurrahman sedang tidak ada di rumah karena ia mengisi pengajian di Jakarta.
Seandainya ia ada di rumah, niscaya masalah ini akan diselesaikannya dengan
kepala dingin tanpa tergesa-gesa. Sebab masalah ini ada kaitannya dengan tauhid
seseorang. Jadi, tidak boleh serampangan dalam memutuskannya.
Usai
Kristin mendapatkan ujian dikeluarkan dari Pesantren Al-Kautsar, ia mendapatkan
ujian lagi. Yaitu, ketika ia hendak pulang, ia telah diculik anak buah Andre
yang telah memata-matainya sejak beberapa lama. Mereka menunggu kesempatan emas
untuk menculiknya. Dengan menculik Kristin, Andre telah menjanjikan uang yang
banyak jika berhasil.
Ketika
Kristin diculik dari Pesantren Al-Kautsar, hal itu telah diketahui oleh Gus
Abbas yang di waktu itu ingin bersilaturrahim di kediaman Kiai Abdurrahman.
Sehingga, dengan cekatan ia berusaha untuk menolongnya. Awalnya, ia tidak
mengetahui kalau santri putri yang diculik tersebut adalah Kristin. Sebab,
setelah masuk Islam, nama Kristin diubah menjadi Fatimatuz Zahro.
Dengan
penuh perjuangan Gus Abbas telah menyelamatkan Kristin. Meskipun tindakannya
ini telah mendapat kecaman dari Ummi Magfirah yang merasa menyelamatkan gadis
murtad itu tidak ada gunanya. Akan tetapi, Gus Abbas tidak langsung termakan
oleh apa yang telah disampaikan oleh Ummi Magfirah.
Akhirnya,
kesalah fahaman mengenai bandul salib yang dipakai Kristin dapat terselesaikan
ketika Kiai Abdurrahman sudah kembali di kediamannya. Kristin dinyatakan tidak
bersalah dan diperbolehkan untuk belajar di pesantren Al-Kautsar lagi.
Setelah
menempuh perjalan yang penjang untuk melamar Kristin, Kiai Zaen mengemukakan
suatu wasiat dari gurunya, Syaikh Diyauddin Makkah agar putranya dinikahkan
setelah melaksanakan ibadah haji atau umrah. Pernyataan ini diperkuat oleh
Syaikh Abdurrauf dengan perintah hendaknya pernikahan dilaksanakan usai
mengelilingi Ka’bah.Yang akhirnya, atas usul Syaikh Abdurrauf, Gus Abbas dan
Kristin menikah di kota suci Makkah seusai thawaf, mengelilingi Ka’bah.
Keywords : Love. Religion Scholl For
Moslem. And pilgrim to Makkah.


