Selasa, 11 Juni 2013

SINOPSIS NOVEL “DI BAWAH NAUNGAN KA’BAH”




Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dua insani antara putra ulama karismatik dengan putri pastur. Namanya Abdullah Abbas (Gus Abbas) dan Eka Kristin Elisabet. Sebelum bertemu, keduanya ditimpa suatu ujian yang sangat berat. Ujian yang mengantarkan akan arti dari sebuah makna kehidupan yang harus dijalani oleh seorang hamba yang ingin memperoleh derajat yang lebih tinggi.

Mulanya, Gus Abbas ingin dijodohkan dengan Neng Nihayatus Sa’adah (Neng Neha) putri Kiai Faruq yang merupakan salah satu ulama terkemuka yang merupakan teman abahnya (Kiai Zaen). Namun, perjodohan itu ditolak oleh Gus Abbas, sebab Neng Neha sudah dicintai terlebih dahulu oleh Kang Hasan (teman Gus Abbas). Ia tidak mau menyakiti hati saudaranya tersebut. Kepetusan ini ia ambil dengan beberapa pertimbangan yang diklimakan dengan meminta petunjuk dari Allah. Ia siap dengan segala resiko yang nantinya akan timbul.

Sebenarnya keputusan ini berat dan pahit. Namun, harus dilakukan demi menjaga perasaan Kang Hasan. Gus Abbas memasrahkan semua yang ia lakukan kepada Allah. Allah lebih mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya dengan penolakan perjodohan tersebut. Ibunya Gus Abbas (Ummi Istiqomah) kecewa dengan keputusannya yang menolak perjodohannya dengan Neng Neha. Ummi Istiqomah ingin Neng Neha menjadi menantunya. Baginya, Neng Neha adalah gadis yang baik dan layak untuk mendampinginya. Namun, ada juga yang mengerti akan sikap bijak yang dilakukan oleh Gus Abbas, seperti Kiai Zaen. Abahnya ini mengerti betul sikap putranya sejak kecil yang tidak pernah menyakiti kedua orang tuanya. Ia berfirasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi putranya. Dalam masalah ini, Kiai Zaen mempunyai suatu keyakinan yang kuat bahwa semua keputusan Gus Abbas ini sudah dilakukan dengan fikiran yang matang dan penuh pertimbangan.

Akibat dari penolakan perjodohan ini, Ummi Istiqomah marah terhadap Gus Abbas. Sementara Neng Neha kabur dari rumah untuk beberapa hari karena merasa tersakiti. Ia menginap di rumahnya Ukhti Hasanah yang merupakan teman sekuliahnya di IAIN. Namun, setelah ia mendapatkan nasehat dari Ukhti Hasanah, hatinya menjadi lunak, dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya lagi. Ia akan melupakan Gus Abbas orang yang pernah dicintainya dan akan membuka lembaran baru dengan Kang Hasan yang dipilih oleh Kiai Faruq sebagai pengganti Gus Abbas. Kang Hasan ini adalah muridnya Kiai Faruq sendiri, karena ia pernah mondok di pesantrennya Kiai Faruq. Adapun mengenai kemarahan Ummi Istiqomah, akhirnya ia menyadari akan tindakannya yang telah memaksa Gus Abbas untuk cepat-cepat menikah. Akhirnya ia  menyerahkan masalah gadis yang akan mendampingi Gus Abbas kepada Gus Abbas sendiri. Karena masih banyak tugas Gus Abbas agar ia bisa seperti yang diinginkan oleh abahnya.

Dengan perasaan yang berat, Gus Abbas harus menghadiri pernikahan Kang Hasan dan Neng Neha. Sebenarnya ia tidak punya keinginan untuk hadir, tapi ia tidak tega melihat temannya yang sedang dalam kebahagiaan harus ditinggalkan dalam acara pentingnya. Gus Abbas hadir dengan membawa raut muka yang menampakan rasa senang dan bahagia. Namun, sebenarnya hatinya bersedih.

Segala perbuatan manusia itu sudah diatur oleh Allah. Semuanya ada hikmah yang terkandung di dalamnya, baik yang sudah diketahui manusia atau yang belum. Konsep inilah yang dipegang oleh Gus Abbas. Ia tidak mau larut dalam kesedihan yang hanya akan menjadikan dirinya rugi. Ia berusaha untuk mengisi waktunya dengan hal kebaikan sebagaimana Kiai Zaen. Sesuatu yang hilang apabila diserahkan kepada Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan perkara yang lebih baik. Ia ingin mencari pengalaman terlebih dahulu sebagaimana yang telah diperintahkan oleh abahnya, sebab nantinya ia akan menggantikan posisi abahnya untuk menjadi seorang kiai. Meskipun kalau dilihat, keilmuan Gus Abbas bila dibandingkan dengan abahnya masih sangatlah jauh sekali. Selain abahnya itu lama mondoknya bila dibandingkan dengan Gus Abbas, ia juga seorang ulama cerdas yang sudah sudah diakui keilmuannya oleh sederetan ulama nusantara. Bahkan kealiman abahnya Gus Abbas ini sudah diakui oleh ulama Haramain (Makkah dan Madinah) ketika ia masih mondok di sana.

Dengan sikap pasrahnya kepada Allah, akhirnya Gus Abbas dapat menemukan jawabannya ketika ia menikah dengan Kristin. Kristin adalah seorang penganut Nasrani yang menjadi muslimah sebab jasanya Gus Abbas.

Mulanya Kristin adalah gadis yang selalu terzalimi. Suatu ketika, ia ingin dizalimi oleh Andre yang ingin merenggut kehormatannya. Namun, nafsu bejatnya Andre tersebut tidak sampai terjadi sebab ada Gus Abbas yang telah menolongnya terlebih dahulu. Waktu itu, Gus Abbas sedang bepergian untuk menjalankan tugas dari abahnya untuk menghadiri diskusi agama sebab abahnya ini ada urusan yang lebih penting, yaitu rapat ICIS (International Conference of Islamic Scholars). Ia ditemani oleh ketiga santrinya yang salah satunya menjadi sopirnya.

Dalam menyelamatkan kehormatan Kristin, Gus Abbas harus menderita luka sebab tusukan pisau Andre. Hampir saja kehormatan gadis itu terenggut sebab pakaiannya sudah koyak. Namun Allah mentakdirkan gadis ini selamat lantaran jasa Gus Abbas. Aurat Kristin yang terlihat ditutup dengan kerudung milik Ummi Istiqomah yang tertinggal di mobilnya. Sebab, mobil yang digunakan oleh Gus Abbas ini adalah mobil yang biasa digunakan umminya untuk mengisi suatu pengajian. Kerudung itu lumayan besar dan cukup untuk menutup aurat Kristin.

Gus Abbas kaget ternyata orang yang ia tolong adalah penganut Nasrani. Hal ini ia ketahui setelah melihat kartu identitas Kristin. Ia berusaha untuk menghindar dari gadis tersebut, meskipun sebenarnya hatinya ada rasa. Pertemuan ini kalau sampai terdengar orang banyak hanya akan menjadi fitnah besar. Rasa yang baru tumbuh itu ia kubur sedalam-dalamnya, sebab tercuma saja, pernikahan antara pemuda Islam dan gadis Kristen tidak dibenarkan oleh agama Islam.

Perasaan cinta juga dialami oleh Kristin. Bahkan rasa cintanya melebihi yang dialami Gus Abbas. Cinta Kristin belum pernah tumbuh kepada seorang lelaki kecuali dengan Gus Abbas yang telah menolongnya. Kristin memang gadis yang taat beragama yang waktunya selalu diisi dengan ibadah dan untuk belajar serta melakukan hal-hal yang baik yang telah diajarkan oleh ayah dan ibunya. Ia ingin sekali cintanya dapat diterima oleh Gus Abbas.

Gus Abbas menolak cinta Kristin dengan alasan perbedaan agama. Dan juga, ia menolak cinta Kristin ketika ia masuk Islam hanya karena mencintainya. Dengan sikap Gus Abbas yang tegas ini, akhirnya Kristin menyadari akan dirinya. Akhirnya, ia mempelajari Islam sedalam-dalamnya dengan penuh keikhlasan hingga mencapai jati dirinya. Setelah itu, ia tidak mau dikatakan bahwa ia masuk Islam karena cinta, meskipun awalnya seperti itu. Ia mengatakan kepada Gus Abbas bahwa Islamnya timbul karena ilmu dan hidayah Allah bukan karena cinta. Akhirnya, cinta Kristin diterima oleh Gus Abbas.

Perjalan Kristin dalam detik-detik menuju hidayah Allah sungguh sangatlah berat sekali. Ketika itu, ayahnya meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan. Kemudian disusul ibunya yang dibunuh oleh anak buah Andre, sebab ia merasa kecewa dengan sikap Kristin terhadapnya saat acara pemakaman ayahnya yang dinilai telah mempermalukannya di depan umum. Sebenarnya yang menjadi incaran utama adalah Kristin, namun di waktu itu Kristin sedang tidak ada di rumah sehingga yang terkena imbasnya adalah ibunya.

Setelah kematian ayah dan ibunya Kristin, ujiannya tidak berhenti sampai di situ. Ujian berat itu ia terima lagi saat ia belajar Islam di Pesantren Al-Kautsar yang diasuh oleh Kiai Abdurrahman yang masih ada kerabat dengan keluarganya Gus Abbas. Ujian yang menerpa Kristin adalah masalah bandul salib yang masih mengikat dengan kalungnya. Liontin itu ia dapatkan dari pemberian ibunya yang didapatkan ayahnya dari Vatikan. Masalah bandul salib ini tidak sengaja telah diketahui oleh Neng Wulan yang merupakan gadis yang merasa tersaingi posisinya semenjak kedatangan Kristin di Pesantren Al-Kautsar.

Dengan adanya bandul salib yang dilihat oleh Neng Wulan, hal membuka peluang kesempatan baginya untuk menjatuhkan Kristin di hadapan pengasuh pesantren agar ia dikeluarkan dari Pesantren Al-Kautsar. Sebab, tindakan Kristin ini dinilai dapat menjadikan dirinya murtad dari agama Islam jika hal itu disengaja ingin tasyabuh (menyerupai) dengan orang kafir dan berlandaskan karena mail (condong) dengan bandul salib tersebut.

Ummi Maghfirah, istri Kiai Abdurrahman menilai tindakan Kristin ini adalah menjadikan dirinya murtad. Dengan tergesa-gesa kata kafirah keluar dari mulutnya untuk Kristin. Kristin menangis dengan tuduhan yang tergesa-gesa tersebut tanpa diselidiki terlebih dahulu motif mengapa ia memakai bandul tersebut. Ia memakai bandul tersebut tidak mempunyai niatan apa-apa kecuali kalung tersebut mengandung sebuah kenangan yang bermakna dengan ibunya. Selain itu, ia juga tidak mengetahui kalau memakai kalung tersebut merupakan suatu larangan karena ia merupakan muallaf yang masih awan dengan ajaran Islam.

Dengan penuh kemarahan, Ummi Magfirah mengeluarkan Kristin dari Pesantren Al-Kautsar. Ia tidak ingin pesantrennya dikotori oleh Kristin. Waktu itu, itu Kiai Abdurrahman sedang tidak ada di rumah karena ia mengisi pengajian di Jakarta. Seandainya ia ada di rumah, niscaya masalah ini akan diselesaikannya dengan kepala dingin tanpa tergesa-gesa. Sebab masalah ini ada kaitannya dengan tauhid seseorang. Jadi, tidak boleh serampangan dalam memutuskannya.

Usai Kristin mendapatkan ujian dikeluarkan dari Pesantren Al-Kautsar, ia mendapatkan ujian lagi. Yaitu, ketika ia hendak pulang, ia telah diculik anak buah Andre yang telah memata-matainya sejak beberapa lama. Mereka menunggu kesempatan emas untuk menculiknya. Dengan menculik Kristin, Andre telah menjanjikan uang yang banyak jika berhasil.

Ketika Kristin diculik dari Pesantren Al-Kautsar, hal itu telah diketahui oleh Gus Abbas yang di waktu itu ingin bersilaturrahim di kediaman Kiai Abdurrahman. Sehingga, dengan cekatan ia berusaha untuk menolongnya. Awalnya, ia tidak mengetahui kalau santri putri yang diculik tersebut adalah Kristin. Sebab, setelah masuk Islam, nama Kristin diubah menjadi Fatimatuz Zahro.

Dengan penuh perjuangan Gus Abbas telah menyelamatkan Kristin. Meskipun tindakannya ini telah mendapat kecaman dari Ummi Magfirah yang merasa menyelamatkan gadis murtad itu tidak ada gunanya. Akan tetapi, Gus Abbas tidak langsung termakan oleh apa yang telah disampaikan oleh Ummi Magfirah.

Akhirnya, kesalah fahaman mengenai bandul salib yang dipakai Kristin dapat terselesaikan ketika Kiai Abdurrahman sudah kembali di kediamannya. Kristin dinyatakan tidak bersalah dan diperbolehkan untuk belajar di pesantren Al-Kautsar lagi.

Setelah menempuh perjalan yang penjang untuk melamar Kristin, Kiai Zaen mengemukakan suatu wasiat dari gurunya, Syaikh Diyauddin Makkah agar putranya dinikahkan setelah melaksanakan ibadah haji atau umrah. Pernyataan ini diperkuat oleh Syaikh Abdurrauf dengan perintah hendaknya pernikahan dilaksanakan usai mengelilingi Ka’bah.Yang akhirnya, atas usul Syaikh Abdurrauf, Gus Abbas dan Kristin menikah di kota suci Makkah seusai thawaf, mengelilingi Ka’bah.

Keywords : Love. Religion Scholl For Moslem. And pilgrim to Makkah.

Senin, 03 Juni 2013

Arti Dari Sebuah Karya Tulis


Dr. Sa’id Romdlon al-Buthy berkata, “Saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa yang membuat saya tetap menulis dan menulis? Kalau untuk kemashuran, saya telah mendapatkan lebih dari pada yang saya harapkan. Kalau untuk kesejahteraan dan kekayaan, Allah telah menganugerahi saya lebih dari pada yang saya butuhkan. Dan kalau ingin dihormati orang, saya sudah memperoleh lebih dari pada yang layak saya terima. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa keinginan yang saya sebut tadi sia-sia dan hampa kecuali seuntai doa yang dihadiahkan kepada saya dari seorang muslim yang tidak saya kenal.”
"Menulis," sebuah konsep yang mudah dituturkan dengan lisan. Namun, terkadang sulit diimplementasikan. Tapi, terkadang juga mudah bagi mereka yang sudah membiasakan diri dan tertembaga dalam hati sanubari. Sebab dalam dunia menulis, modal awal yang dibutuhkan adalah sering membiasakan menulis. Entah dalam kontek apa, yang penting menulis. Dalam dunia menulis juga tidak terlalu membutuhkan intelektual yang tinggi. Tapi, cukup intelektual yang sederhana. Banyak sekali orang yang ilmunya tinggi, tetapi dia lemah dalam menuangkan ke dalam tekstual, karena tidak biasa menulis. Dan banyak orang yang akalnya sedang-sedang saja, tetapi dia lihai berimajinasi dalam dunia menulis.
Mengapa harus menulis? Karena dengan menulis dapat menjadikan sesuatu yang asalnya tiada menjadi ada. Dan dengan menulis pula dapat memberi kabar bagi selain kita tentang apa yang kita ketahui. Manfaatnya, kejadian yang seharusnya dikerjakan karena adanya suatu manfaat bisa di kerjakan oleh orang lain. Dan kejadian yang seharusnya ditinggalkan, karena adanya suatu madharot atau bencana bisa ditinggalkan orang lain. Sehingga bencana yang sama tidak terulang kembali di masa yang akan datang, karena sudah adanya warning dari seorang penulis.
Coba bayangkan seandainya tidak ada tulisan, yang tentunya akan membuat diri kita hidup dalam dunia yang tidak menentu. Hal tersebut terjadi karena kekurangan ilmu dan wawasan yang luas. Sebab kalau kita mengandalkan tutur kata yang ditransmisikan oleh seorang guru kepada seorang murid, akal kita tidak akan mampu menyimpan semuanya ke dalam memori. Zaman kita bukan lagi zaman sahabat yang hidup di masa Rasulullah SAW, yang selalu mendapat sinar keagungan dari beliau. Setiap apa yang sahabat dengar dari ilmu yang telah dituturkan oleh Rasulullah SAW bisa terekam di memori mereka dengan baik.
Meskipun para sahabat hafalannya sangat kuat, mereka tidak bisa melepaskan diri dari apa yang namanya menulis. Mereka menulis yang namanya wahyu. Penulisan dikerjakan dengan alat seadanya, seperti pelapah kurma yang terpencar-pencar di tangan para sahabat. Kemudian tulisan wahyu ini disempurnakan pada masa Khalifah Usman Bin Affan. Maka terbentuklah mushaf Ustmani yang dikepalai oleh Zaid Bin Tsabit.
Dari khalifah Ustman bin Affan, kemudian karya tulis bersafari menuju zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah bani Umayyah yang masih ada kerabat dengan Umar bin Khattab. Pada masa ini, dunia menulis terus berjalan seiring dengan waktu. Hingga suatu saat khalifah Umar bin Abdul Aziz memberi rekomendasi kepada imam az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihhab az-Zuhri) untuk menulis dan membukukan hadis nabawi. Hal ini dikarenakan beliau kawatir akan hilangnya hadis nabi tersebut bersama dengan periwayatannya ke alam kubur.
Yang paling menonjol dalam dunia penulisan Islam yang menghasilkan karya agung, yang patut diabadikan dengan tinta emas dengan ditaburi minyak kasturi di kanan kiri adalah penulisan yang pernah diraih pada masa kejayaan daulah bani Abbasiyyah (Bagdad) dan kerajaan bani Umayyah (Spanyol). Kedua kerajaan besar inilah mengeluarkan output-output yang menyinari dunia lewat ilmu pengetahuan yang di tuangkan dalam sebuah karya tulis. Bukan hanya ruang lingkup agama, melainkan mencakup segala aspek ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Seperti Ibnu Sina (ahli kedokteran), Abu Bakar ar-Rozi (penemu penyakit cacar), Ibnu Nafs (ahli biologi), Imam al- Ghazali (ahli filsafat), Ahmad bin Muhammad (penemu angka nol), Umar Khayyan (ahli kimia) Ibnu Malik (ahli sastra Arab) dan lain-lain. Kalau orang Yunani punya Plato, kita umat Islam punya Imam al-Ghazali. Kalau orang Barat punya Karl Mark, kita punya Ibnu Sina yang mampu mempunyai sebuah karangan al-Qonnun fittib lebih lengkap dari karya Karl Mark dalam masalah ilmu kedokteran, Sehingga Ibnu Sina lebih layak untuk diberi gelar bapak ilmu kedokteran bila dibandingkan dengan yang lainnya. Banyak sekali orang Barat yang menjadikan kitab Ibnu Sina sebagai rujukan dalam ilmu kedokteran.
Mengapa kami perlu memaparkan masa golden histori of Islamic? Hal itu semata-mata kami ingin umat Islam di zaman sekarang bisa bercermin dari kejayaan masa silam. Sehingga kita bisa tergugah dan bangkit dengan semangat dalam dunia tulis menulis. Memang benar bagi kita sekarang sangatlah sulit meniru prestasi yang dipredikatkan pada golden histori of Islamic. Namun, paling tidak kita bisa mengaca dan meniru secercah dari apa yang mereka raih.
Perlu kita sadari, di zaman globalisasi ini, orang yang tidak mempunyai skill akan diasingkan dalam percaturan hidup dan tidak bisa lulus dari seleksi alam. Banyak dari mereka menjadi tersia-sia. Lebih-lebih para intelektual muslim yang tidak mempunyai skill kerja. Dan tidak pula mempunyai ijazah yang tinggi. Dia hanya punya ilmu yang luas. Maka solusi yang tepat bagi mereka adalah menulis. Tuangkan intelektual anda. Jangan sampai ada karya yang ada kaitannya dengan Islam ditulis oleh orang yang non muslim. Tahukah anda tentang kamus Arab Munjid? Ternyata pengarangnya bukan umat Islam. Tetapi pendeta Nasrani yang bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i . Padahal kamus tersebut telah tersebar dibelahan dunia dan banyak dikomsumsi oleh umat muslim.
Imam al-Ghazali berkata, ''Kalau engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama` besar, maka jadilah seorang penulis.'' Marilah kita meniru jejak ulama'-ulama' terdahulu yang selalu rajin menulis sebuah karya. Karya-karya mereka bisa kita nikmati sampai sekarang ketika kita membaca buku milik pribadi atau milik perpustakaan.

Minat Turast Ilal Blog


Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Islam itu bisa maju kalau umatnya mau mempelajari ilmu sains, bukan ilmu agama semata.”
Di zaman yang yang serba modern ini, manusia kalau tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan, maka dia tidak akan bisa lulus dari seleksi alam. Kecanggihan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini telah dicontohkan oleh para cendikiawan mulim terdahulu, terlebih pada masa zaman daulah Abbasiyah dan Umayyah, seperti Ibnu Sina, Abu Bakar Ar-Razi, Ahmad Muhammad, dan Abdul Majid.
Ulama-ulama di zaman kedua kerjaan tersebut sumbangannya untuk Islam sangatlah besar sekali, dan banyak diadopsi oleh orang-orang Barat. Statement kemajuan Khazanah Intelektual Islam ini telah diakusi oleh Raja Inggris kepada Khalifah Hisyam bin Abdurrahman, khalifah Bani Umayyah yang beringinan agar Khalifah Hisyam berkenan menerima putra putri bangsanya untuk belajar ilmu sains di negeri Bani Umayyah.
Suatu ketika, di zaman Daulah Bani Umayyah II ada  orang barat yang mempunyai keinginan jahat terhadap Islam. Namun, setelah mereka melihat kecanggihan Islam dalam membuat kertas, mereka mengurungkan niatnya, dan justru mereka mengagumi kemajuan umat Islam dalam masalah pembuatan kertas yang menggungguli yang lainnya. Mereka menyadari bagaimana pentingnya asebuah kertas. Karena darinya, merupakan wahana untuk menyebarkan ilmu Islam, karena dahulu tulisan itu ditulis dengan dedaunan, batu dan kulit binatang.
Dari penemuan kertas ini, menjadikan awal perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan peradaban Islam, karena sarana untuk menuangkan ilmu telah didapat dengan mudah. Sehingga, ilmu-ilmu yang dihasilkan oleh cendikiawan muslim di zaman dahulu dapat tersebar luas di belahan dunia.
Dengan kemajuan Islam yang begitu pesatnya, hal ini membuat orang Barat tidak tinggal diam. Mereka membuat segala macam cara untuk menghancurkan kekayaan Khazanah Islam hingga ke akar-akarnya. Hingga tibalah waktu yang mengerihkan. Yaitu, kehancuran pusat Khazanah Islam yang ada di daulah Bani Umayyah dan Abbasiyyah. Mereka membakar buku-buku karya cendikiawan muslim. Selainnya ada yang dibuang di sungai Efrout dan Trigis untuk digunakan sebagai jembatan untuk kendaraannya. Sisanya, mereka bawa ke negaranya untuk dikaji guna memajukan bangsanya.
Seandainya di zaman dahulu sudah mengenal internet, niscaya semua karya cendikiawan muslim akan terselamatkan dari penghancuran dan penjarahan yang tanpa bekas dengan cara mengaupload di website atau di blog. Sebab dengan cara ini, ilmu yang sudah dituangkan akan menjadi lebih aman dan juga bisa dinikamati banyak orang.
Dengan memanfaatkan internet kita dapat membuat dakwah kita semakin bersahabat dengan zamannya. Ungkapan  ini persis sebagaimana yang telah dipesankan oleh Syaikhina Maimoen Zubair yang mengutip perkataan Nabi Ibrahim. Yaitu, “Orang yang berakal adalah orang arif (paham dengan betul) akan kemajuan zamannya. Salam Telkomsel.

Minggu, 02 Juni 2013

Kreativitas Mencari Ide Menulis

“Tuhan untuk mengenalkan diri-Nya adalah mencipta. Manusia juga untuk mengekpresikan dirinya juga (harus) mencipta. Mengapa kata Tuhan harus dianggap sebagai kata benda? Mengapa bukan sebagai kata kerja yang paling aktif dan dinamis dari semua kata kerja?” Mari Daly, Teolog.
Manusia dan Tuhan adalah dua kata benda yang berbeda. Tuhan mempunyai sifat yang berbeda dengan makhluk-Nya dalam segala hal. Namun, bukan berarti manusia tidak boleh mengikuti apa yang telah dikerjakan oleh tuhan dengan batasan-batasan yang diperbolehkan. Bukan secara mutlaq. Sehingga, mempunyai dampak negative. Yaitu, ada mahluk yang mengaku sebagai tuhan atau dianggap sebagi tuhan, karena overnya dalam memahami makna tuhan.
Dengan kekuasaan-Nya, Allah mampu menciptakan sesuatu tanpa perantara. Atau juga dengan melalui hukum causalitas, sebab-akibat yang berada di bawah kekuasaan-Nya. Seperti, lahirnya bayi yang disebabkan adanya pembuahan terlebih dahulu dari sel sperma dan ovum.
Dalam menciptakan sesuatu, Allah tidak membutuhkan contoh, atau belajar terlebih dahulu. Ciptaan-Nya yang agung belum pernah ditemukan sebelumnya. Kadang ada satu ciptaan dengan jenis yang sama, akan tetapi macamnya berbeda-beda. Sehingga, manusia dapat memilih sesuai dengan selera yang disukainya.
Di dalam Islam kita kenal Fikih. Kitab ini adalah hasil ijtihad dari para mujtahid seperti imam Abu Hanifah, Maliki, Syafii dan Hanbali. Dari kreativitasnya mereka dapat membuat satu permasalah fikih dengan beberapa pendapat satu dengan yang lainnya berbeda. Sehingga dampak positifnya umat bisa memilih sesuai dengan yang dicocokinya dengan melalui prosedur yang telah ditentukan, sebab manusia itu mempunyai watak yang berbeda-beda.
Allah adalah dzat yang mempunyai ilmu. Dia memberikan ilmu kepada makhluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Ilmu yang diberikan kepada manusia sungguh sangat sedikit bila dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki-Nya. Ibarat setetes air yang jatuh dari jarum yang dicelupkan di dalam air laut. Tapi, dengan modal ilmu yang sedikit tadi, manusia sudah dapat mengubah dunia.
Kreativiatas manusia itu lazimnya didahului dengan belajar. Entah belajar dengan seorang guru atau belajar dari kejadian yang ada di alam dengan membandingkan suatu permasalahan dengan permasalahan yang lain. Sehingga, buahnya dapat menimbulkan ilmu yang baru. Mumazziq Zion berkata,”Pada dasarnya Allah menganugrahi manusia talenta untuk berkreasi di bidang apapun. Hanya, sejauh mana ia menggunakan potensi-potensi ini. Semuanya ini tergantung manusianya.”
Dengan potensi-potensi yang telah diberikan, manusia dapat berkarya sesuai dengan skill yang dimilikinya. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk dicapai, bila hal tersebut dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dan bukan merupakan sesuatu yang mustahil bagi Allah. Batu saja dapat menjadi cekung sebab selalu terkena air hujan. Apalagi otak manusia, yang tentunya lebih empuk dari pada batu. Dari falsafah batu ini, Imam Ibnu Hajar al-Haitami hatinya terbuka. Sehingga, beliau menjadi salah satu ulama besar yang karyanya menjadi rujukan dunia muslim.
Sejarah mencatat, bahwa kreativitas cendikiawan muslim dalam masalah ilmu pengetahuan dan sains lebih berkembang pesat bila dibandingkan dengan apa yang diraih orang Barat. Orang Barat maju sebab mereka mengadopsi sesuatu yang dimiliki umat Islam. Dengan bukti, banyak putra-putri orang Barat yang dikirim untuk belajar kepada cendikiawan muslim yang ada pada masa Daulah Bani Umayyah dan Abbasiyyah. Sehingga, tidak asing bila kita sering menemukan nama-nama cendikiawan muslim dalam hasanah keilmuwan mereka. Seperti, Ibnu Sina, Abu Bakar ar-Razi, dan Umar Hayyan.
Kamajuan-kemajuan umat Islam tadi, sangat digantungkan dengan kesemangatannya dalam berkreativitas. Dari kreativitasnya, banyak inovasi-inovasi dengan ide-ide baru yang tidak dimiliki orang selain Islam. Mereka sangat peduli dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka selalu belajar dan berkarya dengan harapan karya mereka dapat menjadi sinar penerang bagi umat manusia.
Agama Islam datang dengan misi membawa kemajuan dalam segala aspek. Bangsa Arab terangkat derajatnya dari sifat jahiliyahnya, sebab sinar ilmu yang dibawa Rasulullah Saw. Islam tidak menyuruh umatnya untuk mundur. Al-Quran dan al-Hadist selalu mendorong umat Islam untuk selalu bersemangat dalam mengembangkan hasanah keilmuwan. Masih banyak ayat-ayat al-Quran yang perlu dikaji dan diterapkan sesuai dengan kemajuan zaman. Jangan berkata, Islam itu kolot dan konservatif. Sebab, orang yang semacam ini, hanya memandang Islam dengan sebelah mata. Bukalah mata selebar-lebarnya. Niscaya, kebenaran dan ketinggian Islam akan ditemukan.
Sejak awal dekade, cendikiawan muslim selalu bersemangat dalam mengembangkan hasanah intelektual. Banyak hasanah yang lahir dari tangan mereka. Mulanya, Islam hanya mempunyai al-Quran dan al-Hadist. Dengan modal ini, cendikiawan muslim dapat menelurkan beberapa ilmu. Seperti, ilmu Fikih, Usul Fikih, Muthalahul Hadist, Nahwu-Sharap, Balaghah, Mantiq, ‘Arud (ilmu untuk membuat syair-syair Arab) dan Sirah. Semuanya ini lahir sebab dari kedalaman mereka dalam memahami al-Quran dan al-Hadist.
Tentunya, kita sebagai generasi muslim yang hidup di zaman sekarang yang tidak menemui zaman keemasan tersebut harus selalu berkaca. Kita tidak boleh larut dengan merasa bangga dari apa yang telah ditorehkan cendikiawan muslim terdahulu. Tapi, kita harus meniru kreativitas mereka dalam menelurkan ide-ide hasanah keilmuwannya. Jadikan karya mereka sebagai rujukan untuk menuju kemajuan selanjutnya. Sehingga, kita dapat melahirkan karya yang baru. Jika tidak bisa sebaik dengan mereka, minimal kita dapat berkarya, meskipun mutunya tidak sama.
Jangan katakan bahwa kita tidak bisa menuangkan ide-ide berkarya seperti mereka kerjakan dengan alasan bahwa bakat menulis itu sudah bawaan sebelum cendikiawan muslim dilahirkan. Bakat menulis bukanlah tumbuh sebelum dilahirkan, akan tetapi dia lahir sebab kerja keras dan banting tulang. Banyak ulama-ulama yang mencontohkan akan hal itu. Imam nawawi menjadi penulis besar sebab beliau jarang sekali tidur malam. Hampir semua waktunya terkuras untuk belajar, membaca dan menulis. Begitu juga Imam Bukhari dan Imam Muslim. Abdul Hadi WM berkata, “Bakat menulis itu hanya 5 %, lalu keberuntungan 5%. Sedangkan yang 90 % adalah kesungguhan dan kerja keras.”
Dengan karya yang dihasilkan, seseorang telah ikut menyumbangkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk menyinari dunia. Baik untuk generasi sekarang atau yang akan datang. Dr. Sa’id Romdlon al-Buthi berkata,”Sudah berapa banyak jasa yang engkau tinggalkan untuk generasi yang akan datang.”
Nb; Tulisan ini pernah dikirim oleh penulis di situs Pesantren Penulis Yogyakarta pada 26 November 2012.

Menelaah Makna Tembang "Lir-Ilir"

Sesuatu yang ancient itu terkadang menjadi barang renungan yang penuh dengan makna untuk generasi setelahnya. Namun, ada juga yang menjadi bahan kajian untuk dicari celah kesalahannya. Sehingga, dia mengklaim ingin memperbaikinya, padahal perkara itu sudah baik. Kabaikannya sudah disaksikan dan sudah teruji dengan keilmuan yang penuh dengan angan-angan bukan klaim yang sepihak yang ditinjau dari cover belaka. Golongan yang kedua ini merasa dirinyalah yang paling benar, karena menganggap klaimnya sesuai dengan cover. Padahal sering sekali kita menujumpai buku yang covernya bagus, ternyata esensinya biasa-biasa saja. Begitu juga sebaliknya.
Sebagai orang yang bijak, kita harus memperhatikan antara cover dengan isi biar tidak terjebak dengan sandi-sandi yang penuh dengan teka-teki. Kerahkan tenagamu. Kerahkan fikiranmu untuk menguraikan apa yang tersimpan di balik itu semua.
Ada orang Arab yang datang ke Jawa. Dia tahu kalau dirinya adalah orang Arab, Dan mengetahui juga kalau ia sedang singgah di pulau Jawa, bukan jazirah milik nenek moyangnya. Mereka tahu diri, apa visi yang akan dikembangkan jauh-jauh dari pulau sebrang. Yaitu, ingin mengajak kepada istana keselamatan Raja Diraja Alam Semesta. Agar mudah diterima, mereka melepaskan gelar sayyidnya dengan ditebus raden, sunan dan membaur dengan budaya-budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran yang dibawa dari cucu orang yang menggali sumur zam-zam. Budaya itu sekarang disebut dengan "budaya orang Islam yang ada di Pulau Jawa."
Dengan ala jawanya yang islami ini, dapat membuat orang yang di sekelilingnya menjadi simpatik hingga ujung sampai akarnya. Ujungnya, jadilah Jawa yang penuh dengan sinar keislaman yang menembus seantero dunia.
Salah satu budaya Jawa yang mengandung nilai-nilai yang islami adalah tembang Lir-Ilir yang dikarang oleh salah satu anggota Wali Songo. Isi yang dikandungnya penuh dengan makna bagi bagi siapa saja yang ingin mencari makna.
Dalam Bahasa Jawa
  1. Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir
  2. Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
  3. Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi
  4. Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dododiro
  5. Dododiro, dododiro, kumitir bedah ing pinggir
  6. Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore
  7. Mumpung pandhang rembulane, mumpung jembar kalangane
  8. Yo sorak-o sorak hiyo !
Dalam Bahasa Indonesia
  1. Sayup-sayup bangun dari tidur, pohon sudah mulai bersemi
  2. Demikian hijau bagai gairah pengantin baru
  3. Penggembala, tolong panjatlah pohon blimbing itu
  4. Walaupun licin dan susah tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
  5. Pakaian yang koyak sisihkanlah
  6. Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
  7. Mumpung masih terang rembulan nya, mumpung masih banyak waktu luang
  8. Mari bersorak-sorak, ayo...
Makna Tembang Lir-ilir
Kita sebagai orang Islam diminta bangun dari keterpurukan dan dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan. Iman kepada Allah ini dilambangkan dengan tanaman yang bersemi dan menghijau, begitu indah seperti kebahagiaan seorang pengantin baru. Kita disebut anak gembala karena Allah telah menganugerahkan hati dan iman sebagai amanah untuk dijaga. Si anak gembala diminta untuk memanjat pohon belimbing yang menggambarkan 5 Rukun Islam. Meskipun licin dan susah, kita harus tetap memenjat pohon belimbing tersebut apapun halangan dan risikonya. 5 Rukun Islam digunakan untuk selalu membersihkan (mencuci) pakaian kita, yaitu pakaian taqwa (taqwa = kesholehan hidup). Sebagai manusia biasa, ketaqwaan kita pasti terkoyak dan berlubang sana-sini. Untuk itu, kita diminta agar selalu memperbaiki dan membenahinya. Hal ini berguna agar kelak kita sudah siap dipangil oleh Allah. Semua itu harus kita lakukan sejak sekarang, ketika kita masih sehat dan mempunyai waktu luang. Jika ada yang mengingatkan, maka jawablah dengan " Iya ".