![]() |
|
|
Judul
: Penjaja cerita Cinta
Penulis
: @edi_akhiles
Penerbit
: DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1 :
Desember 2013
Tebal
: 192 Halaman
Ada Yang Tertinggal di #Penjaja Cerita Cinta
Salam…@edi_akhiles
Namamu masuk dalam Angkatan Sastra
2002. Kemudian pada tahun 2013, dirimu dianugerahi Pegiat Sastra Indonesia
2013. Serta, dirimu menjadi Rektor #KampusFiksi. Seabrek prestasi yang luar
biasa, yang membutuhkan kerja keras yang lebih untuk menggapainya.
@edi_akhiles, saya sudah membaca
dua karya Anda sebanyak dua kali. Pertama, Silabus Menulis Fiksi. Kedua, #Penjaja
Cerita Cinta. Kedua karya #digdaya* ini menurut pengamatan saya saling
mengisi antara satu dengan yang lainnya. Yang pertama tentang sebuah teori atau
konsep alam fiksi. Dan, yang kedua tentang implementasinya.
Saya tidak akan mengkritisi semua
cerpen yang ada dalam buku #Penjaja Cerita Cinta yang berjumlah 15 cerpen. Saya juga
tidak akan memujinya semua. Semua itu membutuhkan keahlian yang spesifik.. Saya
bukan @edi_akhiles. Saya bukan sastrawan yang setara dengan
@edi_akhiles. Saya jauh di bawahnya. Saya bukan A.S. Laksana, A.G. Pramono, dan bukan Mustofa Bisri. Saya hanyalah
cerpenis pesantren yang cerpennya nampang di majalah dinding pesantren. Padahal untuk menjustifikasi karya seseorang dibutuhkan
keahlihan lebih. Paling tidak sama dalam masalah keilmuan. Namun, saya di sini
hanya sebagai komentator atas apa yang saya baca di #Penjaja
Cerita Cinta. Sekali lagi, ini hanyalah
kesimpulan pribadi saya yang menganggap @edi_akhiles bukanlah manusia yang
sempurna atas karyanya.
Saya yakin sudah banyak penulis
dan pembaca yang memuji buku #Penjaja Cerita Cinta. Termasuk saya pribadi sangat
mengaguminya. Terlebih cerpen yang pertama yang dijadikan sebagai judul
bukunya. Seandainya tidak cermat, niscaya semua pembaca akan tersihir dengan
bahasanya yang puistis dan bermakna. Kata-katanya bak Syaikh Nizami ketika
menulis kisah Laila dan Majnun yang membuat pembaca enggan untuk menaruh buku
itu kecuali rampung dibacanya.
Menurut pengamatan saya pribadi, kata fee-mu
dan mini dress, ini terlalu lebay jika diterapkan dalam cerpen Penjaja
Cerita Cinta. Kedua baksil ini dapat mempengaruhi logika ceritanya.
Terus yang mengganjal di benak fikiran saya di #Penjaja Cerita
Cinta adalah pada cerpen “Abah, I Love You” dan “Si X, Si X And God”. Mungkin kalau
sekedar dinikmati ceritanya dan teknik menulisnya, Oke, kedua cerpen tersebut
sangat lezat sekali. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari keduanya. Namun,
kalau disensor dari konsep Silabus Menulis Fiksi sangat bertentangan. Di Silabus
Menulis Fiksi, @edi_akhiles menulis, “Kombinasikan keduanya secara
proporsional ya. Terlalu banyak narasi, apalagi panjang-panjang kayak rel
kereta Thomas, tentu akan membuat pembaca bosan. Terlalu dominan dialog,
apalagi dialog-dialog yang nggak penting, tentu akan membuat pembaca meyakinimu
bahwa kamu lebih rewel dan cerewet dari Omas.”
Untuk cerpen Abah, I Love You, isinya 98%
narasi. Sedangkan, untuk yang Si X, Si X And God isinya dialog semua. Jelas
dari kedua cerpen ini, @edi_akhiles tidaklah konsisten dalam
mengimplementasikan konsep yang telah dibuatnya sendiri di buku Silabus Menulis
Fiksi. Hal ini perlu introspeksi diri
yang lebih mendalam.
@edi_akhiles tetaplah
@edi_akhiles. Banyak kelebihan yang dimilikinya dalam menulis fiksi. Garam
pengalamannya untuk menjadi pegiat literasi sangatlah banyak sekali. Butuh 700
cerpen untuk membabat alas cerpenisnya. Ilmumu telah masuk ke dalam diri saya
meskipun hanya sekejap ketika di #KampusFiksi Semarang. Guru tetaplah guru
meskipun cuma mengajarkan satu huruf. Itulah yang diajarkan oleh Ali bin Abi
Thalib. Murid tidak pantas mengkritik gurunya, karena ilmu saya tidaklah
sebanding dengan Muhammad bin Abdul Malik ketika mengkritisi Al-Fiyah milik gurunya,
Syaikh Ibnu Mu’thi. Toh, ketika dikritisi, Imam Ibnu Malik masih mendapat
teguran. Sekali lagi, mengkritik itu mudah. Semoga..
Salam…. untukmu Ustadz @edi_akhiles
Sarang, 1 Januari 2014
