Rabu, 01 Januari 2014

Review Buku Penjaja Cerita Cinta





Judul         : Penjaja cerita Cinta
Penulis      : @edi_akhiles
Penerbit    : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1 : Desember 2013
Tebal         : 192 Halaman

Ada Yang Tertinggal di #Penjaja Cerita Cinta

Salam…@edi_akhiles

Namamu masuk dalam Angkatan Sastra 2002. Kemudian pada tahun 2013, dirimu dianugerahi Pegiat Sastra Indonesia 2013. Serta, dirimu menjadi Rektor #KampusFiksi. Seabrek prestasi yang luar biasa, yang membutuhkan kerja keras yang lebih untuk menggapainya.

@edi_akhiles, saya sudah membaca dua karya Anda sebanyak dua kali. Pertama, Silabus Menulis Fiksi. Kedua, #Penjaja Cerita Cinta. Kedua karya #digdaya* ini menurut pengamatan saya saling mengisi antara satu dengan yang lainnya. Yang pertama tentang sebuah teori atau konsep alam fiksi. Dan, yang kedua tentang implementasinya.

Saya tidak akan mengkritisi semua cerpen yang ada dalam buku #Penjaja Cerita Cinta yang berjumlah 15 cerpen. Saya juga tidak akan memujinya semua. Semua itu membutuhkan keahlian yang spesifik.. Saya bukan @edi_akhiles. Saya bukan sastrawan yang setara dengan @edi_akhiles. Saya jauh di bawahnya. Saya bukan A.S. Laksana, A.G. Pramono, dan bukan Mustofa Bisri. Saya hanyalah cerpenis pesantren yang cerpennya nampang di majalah dinding pesantren. Padahal untuk menjustifikasi karya seseorang dibutuhkan keahlihan lebih. Paling tidak sama dalam masalah keilmuan. Namun, saya di sini hanya sebagai komentator atas apa yang saya baca di #Penjaja Cerita Cinta.  Sekali lagi, ini hanyalah kesimpulan pribadi saya yang menganggap @edi_akhiles bukanlah manusia yang sempurna atas karyanya.

Saya yakin sudah banyak penulis dan pembaca yang memuji buku #Penjaja Cerita Cinta. Termasuk saya pribadi sangat mengaguminya. Terlebih cerpen yang pertama yang dijadikan sebagai judul bukunya. Seandainya tidak cermat, niscaya semua pembaca akan tersihir dengan bahasanya yang puistis dan bermakna. Kata-katanya bak Syaikh Nizami ketika menulis kisah Laila dan Majnun yang membuat pembaca enggan untuk menaruh buku itu kecuali rampung dibacanya.

Menurut pengamatan saya pribadi, kata fee-mu dan mini dress, ini terlalu lebay jika diterapkan dalam cerpen Penjaja Cerita Cinta. Kedua baksil ini dapat mempengaruhi logika ceritanya.

Terus yang mengganjal  di benak fikiran saya di #Penjaja Cerita Cinta adalah pada cerpen “Abah, I Love You” dan “Si X, Si X And God”. Mungkin kalau sekedar dinikmati ceritanya dan teknik menulisnya, Oke, kedua cerpen tersebut sangat lezat sekali. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari keduanya. Namun, kalau disensor dari konsep Silabus Menulis Fiksi sangat bertentangan. Di Silabus Menulis Fiksi, @edi_akhiles  menulis, “Kombinasikan keduanya secara proporsional ya. Terlalu banyak narasi, apalagi panjang-panjang kayak rel kereta Thomas, tentu akan membuat pembaca bosan. Terlalu dominan dialog, apalagi dialog-dialog yang nggak penting, tentu akan membuat pembaca meyakinimu bahwa kamu lebih rewel dan cerewet dari Omas.”

Untuk cerpen Abah, I Love You, isinya 98% narasi. Sedangkan, untuk yang Si X, Si X And God isinya dialog semua. Jelas dari kedua cerpen ini, @edi_akhiles tidaklah konsisten dalam mengimplementasikan konsep yang telah dibuatnya sendiri di buku Silabus Menulis Fiksi.  Hal ini perlu introspeksi diri yang lebih mendalam.

@edi_akhiles tetaplah @edi_akhiles. Banyak kelebihan yang dimilikinya dalam menulis fiksi. Garam pengalamannya untuk menjadi pegiat literasi sangatlah banyak sekali. Butuh 700 cerpen untuk membabat alas cerpenisnya. Ilmumu telah masuk ke dalam diri saya meskipun hanya sekejap ketika di #KampusFiksi Semarang. Guru tetaplah guru meskipun cuma mengajarkan satu huruf. Itulah yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib. Murid tidak pantas mengkritik gurunya, karena ilmu saya tidaklah sebanding dengan Muhammad bin Abdul Malik ketika mengkritisi Al-Fiyah milik gurunya, Syaikh Ibnu Mu’thi. Toh, ketika dikritisi, Imam Ibnu Malik masih mendapat teguran. Sekali lagi, mengkritik itu mudah. Semoga..

Salam…. untukmu Ustadz @edi_akhiles

Sarang, 1 Januari 2014